Perhiasan Bernilai Tinggi Dipamerkan di Padang

Perhiasan Bernilai Tinggi Dipamerkan di Padang

Perhiasan bernilai tinggi ditampilkan pada Pameran Kerajinan Karya Budaya Hasil Tambang. Kegiatan ini berkolaborasi Museum Adityawarman dengan Museum Kota Gede Yogyakarta.

Kepala Museum Adityawarman Sumatra Barat, Dewi Ria, mengatakan, digelarnya pameran itu merupakan sebuah momen baru bagi Museum Adityawarman, karena selama ini belum pernah melakukan pameran perhiasan tersebut.

“Ini pertama kalinya di Museum Adityawarman melakukan pameran perhiasan, karena sebelumnya memang kita tidak pernah melakukannya dengan berbagai alasan,” katanya, Kamis (27/10/2022).

Dewi menjelaskan di Museum Adityawarman sendiri memiliki kurang lebih 300 koleksi perhiasan yang merupakan perhiasan pakaian adat di sejumlah daerah di Sumbar. Dari 300 koleksi itu terdiri dari gelang, cincin, anting, kalung, dan sejumlah item perhiasaan lainnya, yang menggunakan bahan dari emas dan perak.

“Untuk emas itu, di koleksi kita ada yang 18 karat dan ada yang 24 karat. Nah hal inilah yang menjadi alasan kenapa kita tidak pernah menggelar pameran perhiasan, khawatir terjadi hal-hal yang tidak di inginkan,” ujarnya.

Namun untuk pameran Kerajinan Karya Budaya Hasil Tambang itu, pihak museum akhirnya melepaskan kekhawatiran tersebut, mengingat adanya kolaborasi dengan Museum Kota Gede Yogyakarta.

Perhiasan bernilai tinggi : Museum Kota Gede

Kolaborasi ini bermula dari tawaran pihak Museum Kota Gede yang memilih Museum Adityawarman untuk menggelar pameran bersama tentang perhiasaan antara dua daerah.

“Jadi ada sebanyak 90 koleksi perhiasan yang di pamerkan, terdiri dari 75 koleksi perhiasan. Dari Sumbar dan 15 koleksi perhiasan dari Museum Koto Gede,” ujar Dewi.

Dia menyebutkan pameran yang berlangsung pada Rabu (26/10) kemarin hingga Selasa (1/11). Pekan depan itu, berlangsung di Ruang Utama Pameran Lantai I Museum Adityawarman, Padang. Peserta yang datang ke dalam museum tidak di pungut biaya alias gratis.

“Saya berharap masyarakat atau pelajar bisa memanfaatkan momen ini, sehingga bisa mempelajari nilai sejarah tentang perhiasan antar Sumbar – Yogyakarta,” sebutnya.

Sementara itu, Kurator Pameran Bersama Salaka Kerajinan Perak Kota Gede dari Museum Yogyakarta. Sektiadi, mengatakan, alasan memilih Museum Adityawarman karena ingin melihat perhiasan. Dari Sumbar dan membandingkannya dari segi motif dan usia dengan perhiasan Kota Gede.

Dia menyebutkan sebenarnya yang membuat saya tertarik itu adanya kesamaan daerah. Seperti untuk Kota Gede, kalau di artikan ke dalam bahasa Indonesia Kota Besar.

Lalu di Sumbar juga ada daerah yang namanya Koto Gadang. Yang bila di artikan ke dalam bahasa Indonesia juga Kota Besar. “Nah hal ini membuat saya penasaran, ada apa dengan kedua daerah itu. Dan ternyata kedua daerah itu ada perajin perhiasannya,” sebut dia.

Menurutnya bila melihat pada sejarah itu, maka dari Museum Kota Gede. Berkeinginan selama pameran itu bisa memperlihatkan tentang model perhiasan dan Kota Gede dengan di Sumbar.

“Bicara motif, memang belum bisa saya simpulkan ada kesamaan atau perbedaan. Tapi saya berharap, pameran ini bisa membuat hubungan Kota Gede dengan Sumbar lebih baik ke depannya,” tutup Sektiadi.

Perhiasan Berlian